Jakarta, MCNID.net--Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mendorong akselerasi dan penguatan industri halal nasional sebagai strategi utama dalam memacu pertumbuhan ekonomi syariah secara berkelanjutan. Hal ini dinilai strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah geliat perdagangan dan ekosistem halal global.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Rabu (14/10/2026). Perhelatan ekonomi dan keuangan syariah serta industri halal terbesar di Indonesia menjadi wadah kolaborasi untuk memperluas penetrasi rantai nilai halal (halal value chain) di Indonesia.
Menurut Destry Damayanti, penguatan industri halal nasional memerlukan sinergi yang solid antarlembaga, inovasi berkelanjutan, serta percepatan transformasi digital di seluruh lapisan ekosistem.
Destry menekankan bahwa ndustri halal tidak sekadar mencakup pemenuhan prinsip keagamaan, melainkan telah berkembang menjadi tren kualitas dan standar produk global yang menjamin prinsip keberlanjutan dan integritas rantai pasok (halalan thoyyiban).
"Perkembangan ekonomi dan keuangan syariah membutuhkan sinergi, inovasi, dan transformasi digital untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan sejalan dengan semangat ISEF 2026," tegas Gubernur BI Destry Damayanti.
Destry mengungkapkan, sektor industri halal Indonesia mencatatkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Rantai nilai halal (halal value chain) saat ini menyumbang hampir 25 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Capaian ini juga didukung oleh lonjakan ekspor produk halal nasional serta penguatan kepemilikan sertifikasi halal yang kini telah mencakup jutaan produk dan melibatkan jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain itu, posisi Indonesia di panggung global kian solid dengan menduduki peringkat atas dalam sektor pariwisata ramah Muslim dunia (Global Muslim Travel Index) serta memimpin di industri modest fashion.
Kerja sama internasional juga terus diperluas melalui skema Mutual Recognition Arrangement (MRA) sertifikasi halal dengan puluhan negara mitra, yang membuka peluang ekspor produk halal nasional ke pasar global secara lebih masif.
Gubernur BI menilai bahwa keberhasilan akselerasi industri halal tidak lepas dari penguatan seluruh lapisan rantai pasok dari hulu ke hilir. Jaminan produk yang halalan tayyiban di sepanjang rantai pasok memberikan kepastian mutu sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di tingkat internasional.
Oleh karena itu, tegasnya, sinergi lintas lembaga antara Bank Indonesia, Kementerian/Lembaga terkait, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), serta sektor swasta menjadi kunci mutlak.
Acara pembukaan ISEF 2026 tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, antara lain Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis, Wamenko Perekonomian Drajat Hari Wibowo, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, serta Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan.
Melalui gelaran ISEF 2026 ini, Bank Indonesia terus mendorong perluasan kapasitas UMKM halal, kemudahan akses pembiayaan syariah, serta digitalisasi rantai pasok halal guna memperkuat fondasi Indonesia menuju pusat ekonomi syariah dunia.




