Jakarta, MCNID.net- Penguatan jejaring dan kolaborasi menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong perempuan mengembangkan usaha dan memperluas akses pasar.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi saat menjadi keynote speaker dalam Talkshow Indonesia Conference on Women and Sharia Community Empowerment (ICWSCE) 2026 bertema "Perempuan Penggerak Inovasi Ekosistem Rantai Nilai Halal" pada rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di JICC. Jumat (16/10/2026), yang menekankan pentingnya membangun ekosistem usaha yang7 inklusif dan berkelanjutan melalui kerja sama antarpelaku usaha.
Arifah menjelaskan, jejaring usaha memungkinkan perempuan saling berbagi pengetahuan, membuka akses pasar, mempertemukan produk dengan calon pembeli, serta mendukung pengembangan usaha satu sama lain. Dengan kolaborasi yang kuat, perempuan diharapkan dapat memperluas peluang usaha sekaligus meningkatkan daya saing produk.
"Penguatan kolaborasi perlu didorong antara perempuan pelaku usaha dengan dunia usaha, lembaga keuangan, marketplace, komunitas, penyedia teknologi, off-taker atau pembeli hasil produksi, serta pasar internasional," jelasnya.
Selain itu, ia juga menyambut baik rangkaian kegiatan ISEF 2026, khususnya business meeting dan business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari dalam maupun luar negeri.
Ia mengapresiasi dukungan Bank Indonesia dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, pertemuan bisnis semacam ini dapat menjadi salah satu upaya untuk membuka peluang kerja sama dan memperluas jangkauan pemasaran produk yang dihasilkan perempuan pelaku UMKM.
Lebih lanjut, Arifah menegaskan bahwa perempuan Indonesia perlu terus didorong untuk berkembang dan mengambil peran lebih besar dalam industri halal. Perempuan tidak hanya diharapkan mampu mengembangkan usahanya, tetapi juga menjadi penggerak inovasi, pengambil keputusan, dan pemimpin dalam pengembangan industri halal.
“Perempuan Indonesia tidak hanya berproduksi, tetapi juga memasarkan. UMKM perempuan tidak hanya berkembang, tetapi terus bertumbuh menjadi bagian rantai nilai, sekaligus menjadi penggerak inovasi, pengambil keputusan, dan pemimpin dalam pengembangan industri halal,” tegasnya.
Lebih lanjut, keberhasilan industri halal Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya pasar, tetapi juga oleh tersedianya kesempatan yang setara bagi perempuan untuk tumbuh, memimpin, dan mengambil peran strategis.
Dalam kesempatan tersebut, Arifah turut mengingatkan perempuan agar tidak meremehkan usaha yang dimulai dari skala kecil. Menurutnya, produk yang lahir dari dapur sederhana atau usaha yang bermula dari langkah kecil tetap memiliki peluang untuk berkembang apabila didukung keberanian, pengetahuan, jejaring, dan kesempatan yang tepat.
“Jangan pernah meremehkan usaha yang bermula dari sesuatu yang sederhana. Bisa saja sebuah produk lahir dari dapur yang kecil, sebuah merek dapat dimulai dari meja yang sangat sederhana, dan sebuah usaha dapat tumbuh dari keberanian untuk mencoba. Jadi, sekecil apa pun usaha yang akan kita mulai, jangan ragu untuk melangkah,” pesannya.
Ia menegaskan, ekosistem pemberdayaan perempuan perlu memastikan tersedianya akses terhadap pembiayaan, kemitraan, pendampingan, teknologi, dan pasar. Dengan dukungan tersebut, usaha yang dirintis dari rumah pun berpeluang menembus pasar global.
Arifah berharap ICWSCE 2026 dapat menjadi ruang yang mempertemukan gagasan dengan kesempatan, menghubungkan inovasi dengan pembiayaan, serta mempertemukan produk dengan pasar. Dengan demikian, potensi perempuan Indonesia dapat berkembang menjadi peluang ekonomi yang berkontribusi bagi industri halal dunia.
“Ketika perempuan diberikan kesempatan untuk mandiri dan berdaya, sesungguhnya dia bukan hanya mandiri dan berdaya untuk dirinya sendiri. Dia juga akan memberikan kesempatan itu untuk memperkuat keluarga dan masyarakat sekitarnya, bangsa, dan negara,” pungkasnya.
Ia pun mengajak perempuan Indonesia untuk terus maju dan berdaya sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.




