Jakarta, MCNID.net--Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, menyatakan bahwa moderasi beragama (wasathiyyah) dan pemikiran Islam yang damai merupakan solusi krusial dalam menghadapi krisis serta dinamika geopolitik global yang kian tidak menentu.

Hal tersebut disampaikan KH Anwar Iskandar saat menyambut delegasi Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian dalam Simposium Ilmiah bertajuk Pembentukan Fatwa dan Fikih Realitas Menurut Al-Allamah Abdullah bin Bayyah di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat, Sabtu (3/10/2026).

Acara internasional ini dihadiri oleh Peneliti Senior Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian, Dr Muhammad Mahbub bin Bayyah, yang merupakan cucu dari ulama kenamaan Syekh Abdullah bin Bayyah, serta mantan Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Islam Dr Muhammad Sholahuddin Al-Mustawi dan Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh.

Wakil Rais Aam PBNU ini menyoroti kondisi tatanan dunia saat ini yang sedang menghadapi ketidakpastian di berbagai sektor kehidupan, mulai dari konflik geopolitik hingga gejolak ekonomi internasional.

Menurutnya, situasi dunia yang sedang tidak baik-baik saja ini dapat mengancam keselamatan dan masa depan kehidupan umat manusia jika tidak diimbangi dengan narasi kedamaian.

"Keadaan dunia ini, geopolitik, geoekonomi, dan lain-lain sedang tidak baik-baik saja dan itu akan bisa berbahaya bagi masa depan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, kehadiran beliau-beliau dengan membawa karya penting ini menjadi bagian dari solusi bagaimana hidup di dunia bisa dilakukan dalam sebuah perdamaian (as-silm), dan itu harus kita pahami melalui pentingnya moderasi dan wasathiyyah," ujar Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini. 

Lebih lanjut, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien, Kediri, Jawa Timur ini memaparkan pandangan Alquran mengenai pentingnya posisi umat Islam sebagai ummatan wasathan (umat pertengahan/moderasi), sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Baqaeah ayat 143.

Konsep moderasi ini, tegasnya, mendasari fondasi kehidupan agar masyarakat global dapat hidup saling memahami dan berdampingan secara damai.

Kiai Anwar juga mengutip Surah Al-Hujurat ayat 13 untuk mengingatkan bahwa keberagaman suku, bangsa, bahasa, hingga agama merupakan ketetapan Tuhan agar manusia saling mengenal (lita'aarafuu), bukan untuk saling bermusuhan.

"Betapapun kita berada dalam latar belakang yang berbeda-beda, hal-hal universal masih sangat banyak yang bisa kita lakukan bersama. Hari ini kita membangun kesepahaman dua bangsa dan dua negara sesama muslim, bagaimana dunia dapat senantiasa diterangi oleh kedamaian," tuturnya.