Jakarta, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menghukumi atau memvonis seseorang hanya dari penampilan fisiknya, termasuk penggunaan atribut busana tertentu.
"Jangan sampai kita memvonis orang itu hanya berdasarkan mata yang melihat kulitnya saja," ujar KH M Cholil Nafis kepada MCNID.net pada Senin (28/9/2026).
Kiai Cholil menyoroti fenomena stereotip sosial di tengah masyarakat yang kerap mengaitkan gaya berpakaian tertentu dengan paham radikalisme. Secara khusus, ia menegaskan bahwa seseorang yang mengenakan celana cingkrang tidak bisa serta-merta dicap sebagai radikal atau teroris.
"Oleh karena itu kita akan terjebak nantinya. Kalau nanti good looking, yang orang punya ciri tertentu dianggap sama dengan orang tertentu. Anggaplah, 'Oh ternyata yang jadi teroris itu yang keras-keras celananya cingkrang'. Dianggap setiap orang yang celana cingkrang dianggap teroris. Nah, itu salah," tegas Kiai Cholil.
Menurutnya, ada banyak alasan logis mengapa seseorang mengenakan celana yang lebih pendek dari ukuran standar pada umumnya.
"Kita enggak tahu bahwa dia celana cingkrang karena celananya lama, dulu bikin masih kecil, sekarang sudah dia cingkrang. Kan belum tahu. Kalau yang kaya bisa beli celana lagi, yang miskin kan enggak sempat beli celana. Jadi tidak setiap cingkrang itu adalah radikal," terangnya.
Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum MUI ini menjelaskan bahwa penglihatan mata manusia kerap kali diselimuti oleh subjektivitas dan prasangka pikiran. Pandangan mata semata tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur dalam menilai kebaikan atau kejahatan seseorang.
"Mata kita ini enggak bisa menjadikan hakim satu-satunya. Jangan sampai kita belum mengenal lalu kita melakukan diskriminasi, memvonis, dan lain sebagainya sehingga melahirkan ketidakadilan dalam bergaul," tambah Kiai Cholil.
Untuk mengikis prasangka dan diskriminasi visual tersebut, Kiai Cholil mengajak umat untuk mengedepankan sikap husnudzon (berbaik sangka) serta menebar kedamaian dan keramahan setiap kali bertemu dengan sesama.
"Semua orang itu senang disikapi dengan ramah. Semua orang senang disikapi dengan santun. Ketika kita bertemu dengan orang, dahulukanlah mata kita kepada orang itu dengan berteman, dengan ramah, dengan baik," kata CEO Amanah Zakat ini.




