Jakarta, MCNID.net--Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), KH M Cholil Nafis, mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah arah pergerakan ekonomi syariah di Indonesia. 

Kiai Cholil, begitu akrab disapa, menekankan pentingnya menggeser fokus dari sekadar transaksi keuangan dan sertifikasi menuju penguatan pembiayaan di sektor riil.

Ajakannya tersebut disampaikan Kiai Cholil saat hadir sebagai narasumber dalam Seminar Nasional Ekonomi Syariah bertajuk "Membangun Masa Depan Ekonomi Syariah yang Inklusif dan Berkelanjutan" yang diselenggarakan di Grand on Thamrin Ballroom, Hotel Pullman Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (5/10/2026).

Dalam sesi diskusi panel bertema "Dari Visi Menuju Aksi: Mempercepat Transformasi Ekonomi Syariah Indonesia", Kiai Cholil menggarisbawahi bahwa kekuatan ekonomi syariah nasional tidak akan berkembang optimal jika pembiayaan perbankan syariah hanya berputar di sektor konsumen dan instrumen jual beli yang aman (fixed income).

"Bisakah kita mengubah dari sekadar keuangan syariah menjadi pembiayaan sektor riil? Saya melihat di perbankan syariah, dari manajemen risiko yang ada, porsi akad musyarakah dan mudharabah, yang menjadi khas ekonomi syariah, masih belum banyak dimaksimalkan karena perbankan cenderung bermain di akad murabahah yang sifatnya fixed," kata Kiai Cholil.

Wakil Ketua Umum MUI ini mengungkapkan, hasil penelitian menunjukkan hampir 90 persen produk perbankan syariah saat ini masih didominasi akad murabahah. Padahal, keunggulan dan keunikan (diferensiasi) sejati dari sistem ekonomi syariah terletak pada akad berbasis bagi hasil yang langsung menyentuh aktivitas produksi masyarakat.

Lebih jauh, Kiai Cholil memaparkan bahwa untuk menggerakkan sektor riil, lembaga keuangan syariah perlu mengadopsi pendekatan investasi yang berorientasi pada dampak (investment impact). Pendekatan ini tidak hanya mengejar imbal hasil finansial (growth atau save investment), melainkan menciptakan multiplier effect bagi perekonomian masyarakat bawah.

"Di BSI misalnya, kita mendorong agar investasi itu ada impact-nya, memberikan pola kepada masyarakat untuk maju. Sama halnya ketika nanti pemerintah memberikan insentif kepada industri halal, tujuannya bukan semata-mata mencari untung bisnis, melainkan menghadirkan dampak ekonomi yang riil di tengah masyarakat," jelasnya.

Rais Syuriah PBNU ini juga menyoroti potensi zakat dan wakaf yang dapat dialihkan dari pola karitatif (charity) menjadi instrumen pemberdayaan produktif (empowerment). Kiai Cholil mendorong agar zakat yang dikeluarkan oleh perusahaan maupun individu dapat diperhitungkan sebagai pemotong pajak (tax credit), sehingga dana sosial Islam dapat mengalir lebih deras untuk membiayai modal usaha di sektor riil.

Guna memuluskan transisi menuju sektor riil, Kiai Cholil meminta pemerintah, regulator, pelaku usaha, hingga ulama untuk keluar dari ego sektoral. Ia menilai pasar produk halal Indonesia yang sangat besar harus ditopang oleh industri manufaktur dan pembiayaan syariah dalam negeri.

"Bahkan untuk industri fashion terbesar di Indonesia saja, pembiayaannya sebagian besar masih dari bank konvensional, bukan dari bank syariah. Ini menjadi tantangan kita bersama. Sektor keuangan syariah dan sektor industri riil harus disambungkan menjadi satu ekosistem yang solid," tegasnya.

Sebagai langkah konkret menghubungkan sektor keuangan dengan sektor riil di tingkat internasional, Kiai Cholil mengumumkan bahwa BSI dijadwalkan meluncurkan kantor cabang resminya di Arab Saudi pada November 2026 mendatang.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menerangkan bahwa kehadiran cabang BSI di Arab Saudi diharapkan dapat mengintegrasikan instrumen keuangan syariah nasional langsung dengan ekosistem riil ibadah haji dan umrah.

"Mempercepat transformasi ekonomi syariah berarti mengubah potensi menjadi kekuatan, mengubah dana sosial menjadi pemberdayaan, dan mengubah keuangan menjadi pembiayaan sektor riil demi kesejahteraan nyata masyarakat," tuturnya. 

Acara seminar tersebut juga dihadiri oleh Direktur Utama Nusantara TV Randy M Tampubolon, Deputi Gubernur Bank Indonesia Solikin M Juhro, Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia Dadang Muljawan, Founder Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar, serta Ekonom Syariah Adiwarman Azwar Karim.