Depok, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, mengingatkan umat Islam mengenai hakikat usia manusia yang terbatas serta pentingnya senantiasa mengingat kematian sebagai sarana mawas diri dan penambah amal kebaikan.
Hal tersebut disampaikannya saat mengisi pengajian rutinan Sabtu Mujahadah yang mengkaji Kitab Mau’idzotul Mu’minin di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (10/10/2026).
Dalam ceramahnya, Kiai Cholil menyinggung hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa rata-rata umur umatnya berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Menurutnya, berapapun usia yang diberikan Allah SWT di atas rentang waktu tersebut merupakan karunia yang patut disyukuri.
"Umur umat Nabi Muhammad itu 60 sampai 70 tahun. Sedikit yang melewati umur 70 tahun. Jadi kalau yang 73 atau 80 tahun itu sudah bonus, bahkan banyak yang meninggal sebelum 60 tahun," ujar Kiai Cholil.
Wakil Ketua Umum MUI ini menjelaskan bahwa perubahan fisik akibat penuaan, seperti keriput dan perubahan wajah, seharusnya menjadi tanda visual yang menyadarkan manusia akan datangnya akhir hayat.
Rais Syuriah PBNU ini mengingatkan agar manusia tidak berpura-pura menolak penuaan atau sibuk mengubah penampilan luar, melainkan fokus memperbanyak dzikir dan menata batin.
"Ketika ngaca, muka enggak lagi mulus kayak dulu, keriput sana-sini, itu peringatan. Enggak usah ditarik-tarik, biarin aja, zikir aja. Mau ditarik tetap saja dalamnya tua," tuturnya.
Lebih lanjut, Kiai Cholil menegaskan bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan singkat layaknya orang yang sedang menyeberang. Kiai Cholil menerangkan bahwa dunia menjadi tempat bercocok tanam (ad-dunyâ mazra'atul âkhirah) tempat manusia mengumpulkan bekal, sedangkan panen yang sesungguhnya baru dirasakan di kehidupan akhirat.
"Ingat kematian itu jadi peringatan. Tiap-tiap jiwa akan mati, kita akan ditelan oleh tanah dan habis. Yang tinggal adalah amal baiknya. Kalau punya amal baik, jiwanya di akhirat kelak akan bahagia," kata Kiai Cholil.
CEO Amanah Zakat ini mendorong umat Islam agar senantiasa menyiapkan "tabungan akhirat", baik melalui amal saleh pribadi maupun mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi beriman yang terus mengalirkan doa bagi orang tuanya.




