Jakarta, MCNID.net--Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) meminta para Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM) untuk meningkatkan kecermatan serta kepandainnya dalam mencari jalan keluar (makhraj) atas berbagai permasalahan yang membayangi pasar modal syariah saat ini. Tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga dinamika indeks global dinilai berdampak langsung terhadap instrumen syariah di dalam negeri.
Wakil Bendahara DSN MUI, M Gunawan Yasni, menegaskan bahwa situasi pasar modal yang tengah mengalami penurunan (downgrade) menuntut penanganan yang lebih cerdas dan teliti dari para praktisi syariah, terutama ketika berhadapan dengan potensi default (gagal bayar) pada instrumen sukuk korporasi.
"Sekompleks itu permasalahan yang timbul dari situasi umum yang kita anggap merembet dari konvensional. Di syariah itu harus lebih pintar, lebih pandai untuk mencarikan jalan keluarnya," ujar Gunawan di sela-sela gelaran Ijtima Sanawi XXII DSN MUI di Hotel Mercure Harmoni, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026), dinarasikan kembali Selasa (27/10/2026).
Sebagai langkah antisipasi, DSN MUI telah menggelar rangkaian workshop pra-Ijtima Sanawi yang membedah lima topik utama di kelas pasar modal. Forum tersebut difungsikan sebagai pembekalan sekaligus sinyal peringatan dini (early warning signal) bagi para ASPM yang mendampingi emiten di lapangan.
Gunawan menjelaskan, DSN MUI memberikan panduan umum dan opsi solusi atas potensi krisis keuangan yang dihadapi emiten. Namun, eksekusi dan detail penyelesaiannya dikembalikan kepada kepakaran serta analisis masing-masing ASPM dan Tim Ahli Syariah (TAS) yang mendampingi emiten, bank kustodian, dan wali amanat sejak awal penerbitan sukuk.
"Walaupun kita sudah memberikan opsi jalan keluarnya (makhraj-nya), itu tetap kita kembalikan kepada expertise dari masing-masing Ahli Syariah Pasar Modal. Karena situasinya beda-beda, persoalannya beda-beda," jelasnya.
Gunawan mencontohkan, dampak tekanan pasar modal tidak dirasakan secara merata oleh seluruh sektor. Sukuk yang dikeluarkan oleh emiten di sektor konsumsi (consumer goods) cenderung lebih stabil, sedangkan sukuk yang dulunya diterbitkan untuk membiayai proyek infrastruktur kini menghadapi tantangan yang jauh lebih berat.
"Kita bekali kepada para ASPM, ini kira-kira out-nya seperti ini. Tapi bagaimana tepatnya dan detailnya, itu tergantung kepada kecermatan mereka dalam mendampingi emiten masing-masing," kata Gunawan.
Berita
Pasar Modal Syariah Dibayangi Persoalan, DSN MUI Minta ASPM Lebih Cermat dan Pandai Cari Solusi
Sadam
27 Okt 2026 11.561

DSN MUIGunawan YasniIHSGAhli Syariah Pasar Modal
Berita Lainnya
BeritaSoal Kripto Syariah, DSN MUI Tunggu Kesiapan Infrastruktur Bursa dari OJK
BeritaRestrukturisasi Sukuk Tak Semudah Obligasi Konven, Gunawan Yasni: Terikat Kepastian Akad
BeritaBI: Kepercayaan Masyarakat Jadi Kunci Keberlanjutan Ekosistem Ekonomi Keuangan Syariah
Berita