Jakarta, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya ulama kharismatik pendiri Ponpes Daarul Rahman, KH Syukron Makmun.
Dalam momen bertakziah tersebut, Kiai Cholil menegaskan bahwa kedatangan umat saat bertakziah bukan sekadar bentuk belasungkawa, melainkan momentum penting untuk meneruskan perjuangan para ulama.
Kiai Cholil mengungkapkan rasa duka atas berpulangnya para tokoh agama secara beruntun. Sebelum menuju Jakarta untuk bertakziah ke kediaman Kiai Syukron Makmun, Kiai Cholil juga baru saja bertakziah atas wafatnya TGH Turmudzi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Berduka atas wafatnya para ulama, sejatinya kita sedang menyaksikan berkurangnya cahaya ilmu di tengah umat," ujar Kiai Cholil Nafis dalam postingan di akun Instagram pribadinya @cholilnafis, dikutip Senin (19/10/2026).
Menurut Rais Syuriah PBNU ini, kabar duka ini menyadarkan seluruh umat Islam bahwa usia manusia memiliki batas, sementara umat akan selalu membutuhkan bimbingan dan arahan para ulama.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut juga mengutip peringatan Rasulullah SAW bahwa Allah tidak mencabut ilmu secara langsung dari dada manusia, melainkan dengan mewafatkan para ulama.
Kiai Cholil mengatakan, kepergian ulama bukan sekadar berpisahnya sosok secara fisik, melainkan hilangnya keluasan ilmu, keteladanan akhlak, serta mata rantai pewarisan hikmah yang harus terus dijaga oleh generasi penerus.
Oleh karena itu, Kiai Cholil mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan momen duka ini sebagai pemantik semangat melanjutkan dakwah, merawat ajaran keilmuan, serta mengader generasi penerus agar cahaya ilmu Islam tidak padam ditelan zaman.
"Mengenang ulama berarti melanjutkan dakwahnya, merawat ilmunya, meneladani akhlaknya, serta mengader generasi penerus agar cahaya ilmu tidak padam," tegasnya.
Kiai Cholil mendoakan agar Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilaf, serta menempatkan almarhum di tempat terbaik bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.




