Jakarta, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, mengajak umat Islam untuk memaknai arti hidup secara lebih luas dan mendalam.
Ajakan tersebut disampaikan melalui refleksi perjalanannya saat melaksanakan ziarah ke makam Imam Al-Syafi’i di Kairo, Mesir, yang dibagikan melalui media sosial pribadinya pada Senin (2/11/2026).
Dalam kunjungan spiritual tersebut, Kiai Cholil Nafis mengenang kembali perjalanan hidup salah satu imam mazhab besar dalam Islam yang lahir di Gaza, Palestina, pada tahun 150 H (767 M) dan wafat di Mesir pada tahun 204 H (820 M).
Imam Syafi’i berpulang ke rahmatullah dalam usia yang relatif muda, yakni sekitar 54 tahun. Kendati demikian, usia yang tidak terlalu panjang itu tidak menghalangi sang ulama besar untuk menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam.
Menurut Kiai Cholil Nafis, ziarah ke makam tokoh-tokoh besar seperti Imam Syafi’i memberikan kesadaran batin bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya.
Meskipun jasad seseorang telah lama menyatu dengan tanah, ilmu, pemikiran, serta karya-karya monumental yang ditinggalkannya akan terus hidup dan menerangi umat manusia lintas zaman dan batas geografis.
"Ziarah ke makam Imam Syafi’i di Mesir mengingatkan kita bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan seseorang. Raganya telah wafat, tetapi ilmunya terus mengalir menjadi amal jariyah yang tidak terputus," ujar Kiai Cholil Nafis.
Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum MUI ini menekankan bahwa ukuran keberkahan hidup manusia tidak diukur semata-mata dari panjang pendeknya usia di dunia. Menurutnya, tolak ukur yang sesungguhnya adalah seberapa besar kontribusi serta kemaslahatan yang ditinggalkan bagi sesama manusia.
Melalui karya-karya besarnya seperti kitab Al-Umm, Ar-Risalah, serta berbagai fondasi pemikiran fikih, Imam Syafi’i telah membuktikan bagaimana ilmu dapat menjadi amal jariyah. Karya-karya tersebut hingga hari ini masih terus dipelajari, dikaji, didiskusikan, dan diamalkan oleh jutaan umat Islam di berbagai belahan dunia.
Melalui momen ziarah ini, Rais Syuriah PBNU ini berpesan kepada masyarakat luas agar tidak sekadar bercita-cita memiliki umur yang panjang secara kuantitas.
Lebih dari itu, Kiai Cholil mendorong masyarakat untuk memiliki visi hidup yang produktif dengan meninggalkan karya nyata, ilmu yang bermanfaat, serta keteladanan yang baik.
Mengutip adagium klasik, Kiai Cholil mengatakan bahwa para ulama tetap hidup dengan ilmunya, meskipun jasad mereka telah tiada. "Manusia memang akan pergi meninggalkan dunia, namun kebaikan dan ilmu yang ditanam semasa hidup akan terus hidup sepanjang masa," tegasnya.
Berita
Teladani Imam Syafi’i, KH Cholil Nafis Ajak Umat Beri Manfaat Sepanjang Masa
Sadam
3 Nov 2026 00.092

Kiai Cholil NafisMesirKairoImam Syafi'i
Berita Lainnya
BeritaZiarah ke Makam Imam Syafi’i, KH Cholil Nafis Ingatkan Makna Keberkahan Hidup
BeritaKapolres Sukoharjo Dicopot, Sekjen MUI Apresiasi Ketegasan Kapolri
BeritaKetua Komisi Dakwah MUI Dorong Dai Kuasai Seni 'Memukul' Sambil Merangkul
Berita