Samarinda, MCNID.NET – Membentuk generasi yang gemar membaca tidak selalu harus dimulai dari perpustakaan besar atau fasilitas pendidikan yang lengkap. Kebiasaan itu bisa tumbuh dari rumah, ketika orang tua membacakan cerita kepada anak, atau dari sebuah taman bacaan sederhana yang membuka kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal dunia melalui buku.

Semangat itulah yang mempertemukan 145 pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dari 17 provinsi dan 30 kabupaten dalam Temu Pegiat TBM Nasional ke-2 di Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (6/11/2026).

Bertempat di Gedung Rizani Asnawi, UPTD Taman Budaya Samarinda, pertemuan yang diselenggarakan Forum Taman Bacaan Masyarakat pada 6–8 November 2026 ini mengusung tema "Dari Beranda IKN, Merajut Kolaborasi, Menguatkan Literasi".

Peserta datang dari berbagai penjuru Indonesia, mulai Sumatera Barat hingga Nabire, Papua Tengah. Mereka membawa pengalaman tentang bagaimana membangun budaya baca di tengah keluarga dan masyarakat, sekaligus menghadapi tantangan yang berbeda di setiap daerah.

Ketua Panitia yang juga Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Forum TBM, Heni Wardatur Rahmah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti peserta dari 17 provinsi dan 30 kabupaten.

Orang Tua Punya Peran Penting Menumbuhkan Budaya Baca

Salah satu pembahasan menarik dalam pertemuan tersebut muncul pada sesi Ngapeh Inspirasi bertajuk "Buku yang Menggerakkan TBM". Forum yang dipandu Kak Budi dari Forum TBM Kalimantan Timur itu menghadirkan empat perempuan dengan pengalaman dalam mengembangkan gerakan literasi.

Rika Yudani, Program Manager Room to Read Indonesia sekaligus penggagas Tangerang Read Aloud, menekankan bahwa budaya membaca dapat dibangun sejak anak belum mengenal huruf.

Membacakan cerita kepada anak bukan hanya memperkenalkan buku. Aktivitas tersebut juga menjadi kesempatan bagi orang tua untuk membangun kedekatan emosional dan menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

"Budaya membaca sesungguhnya bisa dimulai dari rumah, bahkan sebelum anak mengenal huruf. Ketika orang tua membacakan cerita, sesungguhnya mereka sedang membangun kedekatan emosional sekaligus menanamkan kecintaan terhadap buku. Membaca harus menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan beban," ujarnya.

Pesan tersebut mengingatkan bahwa pendidikan literasi tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak mengenal pengetahuan, kebiasaan belajar, dan kecintaan terhadap buku.

Kegiatan membaca bersama dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membangun kebiasaan tersebut. Tidak harus selalu melalui buku yang tebal atau materi yang sulit. Cerita anak, kisah kehidupan, dan bacaan yang sesuai usia dapat menjadi awal yang baik.

Ketika Buku Mendatangi Anak-Anak

Cerita inspiratif lainnya datang dari Siti Badariah, penggerak Kampung Baca Tansal di Desa Tanjung Saleh, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Di wilayah yang kehidupan masyarakatnya sangat dekat dengan sungai, Siti mengembangkan Perahu Baca. Melalui inisiatif tersebut, buku dibawa menyusuri sungai agar anak-anak tetap memiliki akses terhadap bacaan.

"Kami tinggal di wilayah yang kehidupan masyarakatnya sangat dekat dengan sungai. Karena itu, kami berpikir buku juga harus bisa mengikuti kehidupan mereka. Kalau anak-anak sulit datang ke tempat membaca, maka bukulah yang harus mendatangi mereka. Dari situlah Perahu Baca menjadi penting," jelasnya.

Kampung Baca Tansal kemudian berkembang menjadi ruang belajar masyarakat. Kegiatannya tidak hanya membaca, tetapi juga pelatihan komputer dan aktivitas kreatif. Kiprah Siti memperoleh pengakuan melalui SATU Indonesia Awards bidang pendidikan tingkat Kalimantan Barat pada 2021.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap pendidikan anak dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Ketika fasilitas terbatas, kreativitas dan semangat gotong royong masyarakat dapat membuka jalan bagi anak-anak untuk memperoleh kesempatan belajar.

Anak Daerah Berhak Mendapatkan Buku Berkualitas

Dalam sesi yang sama, Rita Orbaningrum dari Muntok, Bangka Barat, berbagi pengalaman mengembangkan TBM Pondok Baca Ceria yang didirikannya pada 2016. Sebagai guru Bahasa Indonesia, ia meyakini bahwa literasi tidak boleh berhenti sebagai kewajiban di sekolah.

"Saya percaya bahwa literasi tidak boleh berhenti di ruang kelas. Anak-anak perlu menemukan bahwa membaca bukan sekadar kewajiban sekolah, tetapi pintu untuk mengenali dunia dan memahami kehidupan. TBM menjadi ruang yang memungkinkan proses belajar itu berlangsung lebih dekat, lebih bebas, dan lebih menyenangkan," katanya.

Rita juga mengembangkan Yayasan Bumi Literasi Mandiri pada 2022, aktif dalam dunia kepenulisan, dan sejak 2025 memimpin Forum TBM Bangka Belitung.

Sementara itu, Nurul Asmayani dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menyoroti pentingnya kualitas bacaan bagi anak-anak. Penulis buku anak dan remaja sejak 2011 tersebut telah menghasilkan karya dengan beragam tema, mulai dari tokoh sejarah hingga cerita islami.

Menurut Nurul, anak-anak di daerah tidak boleh dipandang hanya membutuhkan buku seadanya. Mereka juga berhak mendapatkan bahan bacaan yang menarik dan memperkaya imajinasi.

"Anak-anak di daerah membutuhkan buku yang dekat dengan kehidupan mereka, tetapi sekaligus membuka jendela menuju dunia yang lebih luas. Jangan menganggap anak-anak di daerah cukup diberi buku seadanya. Mereka juga berhak mendapatkan bacaan bermutu, menarik, dan memperkaya imajinasi," ujarnya.

Keempat pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan literasi perlu dibangun secara bersama-sama. Orang tua, guru, penulis, komunitas, dan lembaga pendidikan memiliki peran yang saling melengkapi.

Taman Bacaan Juga Mengajarkan Anak Mengenal Budaya

Rangkaian kegiatan hari pertama juga membahas hubungan literasi dengan kebudayaan. Dalam sesi bertajuk "TBM sebagai Ruang Hidup Kebudayaan: Merawat Tradisi, Merayakan Kreativitas, Membangun Masa Depan", hadir sastrawan Syafrudin Pernyata dan Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kalimantan Timur Rahmad Azazi Rhomantoro. Diskusi dipandu Arif Afandi.

Pembahasan ini menegaskan bahwa taman bacaan dapat menjadi ruang untuk mengenalkan anak-anak kepada cerita rakyat, sastra, tradisi lisan, seni, dan kekayaan budaya daerah.

Syafrudin Pernyata mengingatkan pentingnya menjaga warisan cerita dan tradisi agar tetap dikenal oleh generasi muda.

"Kita memiliki kekayaan cerita, sastra, dan tradisi lisan yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana semua itu tidak berhenti sebagai kenangan generasi tua. TBM dapat menjadi jembatan agar warisan kebudayaan itu dibaca kembali, ditafsirkan, dan dihidupkan oleh generasi muda," ujarnya.

Rahmad Azazi Rhomantoro menambahkan bahwa kebudayaan tidak cukup hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu. Masyarakat juga perlu diberi ruang untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya baru.

"Menjadi tuan rumah Temu Nasional Pegiat TBM bukan semata-mata kehormatan bagi Kalimantan Timur, tetapi juga kesempatan untuk memperlihatkan bahwa gerakan literasi tumbuh dari komunitas-komunitas lokal. Kami ingin para pegiat yang datang membawa pulang bukan hanya kenangan tentang Kalimantan Timur, tetapi juga inspirasi dan jejaring kolaborasi," katanya.

Dengan pendekatan tersebut, taman bacaan dapat menjadi tempat anak-anak mengenal identitas budaya sekaligus belajar menghargai keberagaman.

Perpustakaan Harus Hadir dan Dekat dengan Masyarakat

Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan Ngapeh Literasi bertema "Menguatkan Ekosistem Gerakan Literasi Akar Rumput". Forum yang berlangsung pukul 19.00–21.30 WITA ini menghadirkan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Prof. E. Aminudin Aziz, Sekretaris Jenderal PP Forum TBM Heni Wardatur Rahmah, dan Ketua Umum Forum TBM Dr. Opik, M.Pd. Diskusi dipandu Andi Diah Masita, Ketua PW Forum TBM Sulawesi Tenggara.

Dalam pemaparannya, Aminudin mengisahkan bagaimana perpustakaan pada masa lalu kerap dipinggirkan dalam lingkungan birokrasi.

Pengelola perpustakaan terkadang diisi pegawai yang tidak memperoleh tempat di unit lain, dianggap bermasalah, atau sedang menunggu masa pensiun. Bahkan, fasilitas perpustakaan tidak jarang ditempatkan berdekatan dengan toilet atau gudang, sementara koleksi buku disediakan sekadarnya.

Kondisi tersebut membuat perpustakaan kehilangan daya tarik dan tidak menjadi ruang yang mengundang masyarakat untuk datang.

Aminudin mendorong perubahan mendasar, bahkan radikal, dalam cara pandang terhadap perpustakaan. Literasi harus menjadi *backbone* atau tulang punggung pembangunan agar kualitas manusia dan martabat bangsa meningkat.

Pustakawan dan pejabat pengelola perpustakaan juga tidak boleh terjebak dalam pola pikir menara gading. Mereka harus *down to earth*, membumi, memahami kebutuhan masyarakat, dan menghadirkan layanan yang benar-benar dirasakan manfaatnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk membangun kolaborasi antara perpustakaan, sekolah, keluarga, dan komunitas. Semua pihak perlu mengambil peran agar anak-anak dan masyarakat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memperoleh pengetahuan.

Ketua Umum Forum TBM Dr. Opik atau akrab disapa Kang Opik, menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan positif di Perpustakaan Nasional dan dukungannya terhadap penguatan ekosistem literasi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan agar kemajuan tersebut dirasakan hingga tingkat komunitas.

"Temu Nasional Pegiat TBM bukan sekadar forum berkumpulnya para pengelola taman bacaan dari berbagai daerah. Ini adalah ruang untuk saling belajar, saling menguatkan, dan menyadari bahwa kita sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada mengelola tempat membaca. Kita sedang membangun ekosistem literasi masyarakat," ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa gerakan literasi harus tumbuh dari karakter dan kekayaan masing-masing daerah.

"Literasi harus tumbuh dari akar kehidupan masyarakat. Setiap daerah memiliki tradisi, bahasa, cerita, dan pengetahuan lokal yang menjadi kekuatannya. Karena itu, gerakan literasi tidak boleh seragam. Ia harus berangkat dari kekayaan lokal, tetapi memiliki semangat kolaborasi nasional."

Keluarga dan Komunitas Menyiapkan Masa Depan Anak

Temu Pegiat TBM Nasional ke-2 memperlihatkan bahwa membangun budaya membaca merupakan pekerjaan bersama. Kebiasaan membaca di rumah, kualitas buku anak, keberadaan taman bacaan, serta dukungan lembaga pendidikan dan pemerintah merupakan bagian dari ekosistem yang saling berkaitan.

Bagi keluarga, salah satu pelajaran penting dari pertemuan ini adalah bahwa mengenalkan buku kepada anak tidak harus menunggu mereka memasuki usia sekolah. Orang tua dapat memulainya melalui kebiasaan sederhana, seperti membacakan cerita, mengajak anak mengunjungi perpustakaan, atau menyediakan waktu membaca bersama.

Bagi masyarakat, keberadaan TBM membuka ruang belajar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di tempat-tempat yang jauh dari fasilitas pendidikan, inisiatif komunitas bahkan dapat menjadi jembatan penting bagi anak-anak untuk memperoleh akses pengetahuan.

Pada akhirnya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Ia juga berkaitan dengan kemampuan memahami kehidupan, menghargai budaya, mengembangkan kreativitas, dan membangun karakter.

Dari sebuah rumah, taman bacaan sederhana, hingga perahu yang menyusuri sungai, upaya menyiapkan generasi masa depan dapat dimulai dari langkah kecil: mendekatkan anak-anak kepada buku dan menjadikan belajar sebagai bagian yang menyenangkan dalam kehidupan keluarga.