Jakarta, MCNID.net - Lebih dari 2.000 warga Yaman terpaksa meninggalkan negaranya dan menyeberangi Laut Merah menuju Djibouti di tengah meningkatnya pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman.

Gelombang pengungsian ini menunjukkan semakin luasnya dampak kemanusiaan konflik, terutama di wilayah pesisir yang berdekatan dengan Selat Bab al-Mandeb.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat, sebanyak 85.818 orang telah mengungsi akibat konflik yang kembali meningkat di Yaman. Dari jumlah tersebut, sekitar 82.000 orang tercatat mengungsi sejak awal September. Dalam waktu yang sama, Djibouti menghadapi lonjakan kedatangan warga Yaman di kota pesisir Obock.

Koordinator Respons Kemanusiaan IOM, Safiya Ibrahim, mengatakan kelompok rentan, terutama perempuan dan anak-anak, termasuk di antara warga yang tiba di Obock. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan perlindungan kemanusiaan di wilayah tersebut semakin mendesak.

“Kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak telah mencapai pantai Obock, dan lebih banyak lagi diperkirakan akan tiba dalam beberapa hari mendatang,” ujarnya kepada Aljazeera (14/9/2026).

Menteri Ekonomi dan Keuangan Djibouti, Ilyas M. Dawaleh sebelumnya melaporkan sekitar 1.400 warga Yaman tiba di negaranya dalam kurun waktu 24 jam. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi lebih dari 2.000 orang berdasarkan data IOM. Sebagian pengungsi bahkan harus diselamatkan di tengah perjalanan laut setelah kapal yang mereka gunakan kehabisan bahan bakar saat melintasi Bab al-Mandeb.

Dalam laporan terpisah, Dawaleh menyebut sekitar 500 pengungsi telah tiba di Obock, termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka diselamatkan di laut setelah perahu yang ditumpangi kehabisan bahan bakar ketika berusaha menyeberangi selat yang hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari pesisir Yaman.

Obock selama beberapa tahun menjadi salah satu titik kedatangan warga Yaman yang melarikan diri dari konflik. Pada Maret 2026, Djibouti tercatat menampung lebih dari 36.000 pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar, dengan mayoritas berasal dari Somalia, Ethiopia, dan Yaman.

Di sisi lain, pertempuran di Yaman terus mendorong perpindahan penduduk. Kelompok Houthi dilaporkan telah merebut kota pelabuhan Mocha dan memperluas penguasaannya di wilayah pesisir serta sejumlah pulau di sekitar Bab al-Mandeb. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah desa dan permukiman di beberapa distrik dilaporkan ditinggalkan oleh penduduknya.

Lonjakan kedatangan pengungsi turut meningkatkan tekanan terhadap Djibouti yang harus menyediakan kebutuhan dasar bagi para pendatang, mulai dari tempat tinggal, makanan, layanan kesehatan hingga perlindungan bagi kelompok rentan. Situasi ini juga menambah beban terhadap sistem kemanusiaan di negara tersebut.

Kepala IOM di Djibouti Alexandre Coissac memperingatkan bahwa meningkatnya arus kedatangan dalam waktu singkat dapat membuat kapasitas penanganan pengungsi semakin terbatas. Ia menilai diperlukan dukungan dan koordinasi lebih besar untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya jumlah pengungsi dari Yaman.

“Jika hal ini terus berlanjut pada tingkat seperti ini, kami tidak akan mampu mengelolanya,” ujarnya.