Medan, MCNID.net--Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis mendorong para tokoh agama untuk memperkuat perannya sebagai penggerak perdamaian dan perekat persatuan lewat dakwah wasathiyah di tengah masyarakat majemuk.
Hal tersebut disampaikannya saat mengisi materi Dakwah Wasathiyatil Islam pada Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Medan, Sumatera Utara, Rabu (16/9/2026).
Kiai Cholil menekankan bahwa dakwah dengan pendekatan wasathiyah (moderat) menjadi kunci mendasar agar keragaman dan perbedaan pandangan di tengah masyarakat tidak berkembang menjadi perpecahan atau konflik sosial.
"Cara berdakwah dan model negara termasuk wilayah yang dapat mengalami perubahan sesuai konteks (al-mutaghayyirat). Karena itu, dalam menyikapinya diperlukan kebijaksanaan dan pendekatan yang moderat," kata Kiai Cholil.
Kiai Cholil menjelaskan bahwa konsep Islam wasathiyah mengacu pada prinsip ummatan wasathan sebagaimana tertuang dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 143. Sikap ini berada di posisi pertengahan, yakni berada di antara ifrath (sikap berlebih-lebihan dalam beragama) dan tafrith (sikap mengurangi atau mengabaikan ajaran agama).
Menurutnya, penerapan moderasi beragama bukan berarti mengikis atau mengurangi prinsip ajaran Islam, melainkan upaya memahami dan mengamalkan agama secara proporsional. Tokoh agama diharapkan tidak hanya mahir menyampaikan ajaran keagamaan, tetapi juga mampu membedakan persoalan pokok yang tidak berubah (al-tsawabit) dengan persoalan yang dinamis dan fleksibel (al-mutaghayyirat).
Lebih lanjut, Kiai Cholil mengaitkan dakwah wasathiyah dengan tanggung jawab kebangsaan dan rasa cinta Tanah Air. Dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini, Kiai Cholil menilai semangat jihad perlu diorientasikan pada upaya menjaga nilai-nilai persatuan (ittihad), musyawarah (syura), keadilan ('adalah), kepastian hukum, serta perlindungan hak asasi manusia.
Pelatihan yang diselenggarakan pada 16-17 September 2026 ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan wawasan para tokoh agama di Sumatera Utara untuk mengelola perbedaan secara bijaksana.
Lewat pemahaman yang moderat, adil, dan toleran, tokoh agama diharapkan terus berada di barisan terdepan dalam menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin dan penguat kerukunan bangsa.




