Kairo, MCNID.net--Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH M Cholil Nafis, mengingatkan para kader dan pengurus Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Mesir agar tidak membatasi makna ibadah hanya pada ritual formal semata. Menurutnya, pemahaman agama yang terlalu sempit sering kali menjadi salah satu faktor penghambat kemajuan umat.
Kiai Cholil menegaskan bahwa dakwah Islam harus bergerak melampaui batas-batas syiar dan ritual ibadah ritualistik agar umat Islam dapat menjawab tantangan zaman yang kian kompetitif.
"Dalam pertemuan dengan PCI NU Mesir, saya menyampaikan bahwa dakwah kita jangan berhenti pada syiar dan ritual. Kadang-kadang umat Islam tertinggal bukan karena kurang semangat beragama, tetapi karena memahami ibadah terlalu sempit," ungkap Kiai Cholil melalui akun media sosial pribadinya, Rabu (4/11/2026).
Kiai Cholil merinci bahwa ibadah dalam Islam memiliki cakupan yang sangat luas dan komprehensif. Shalat, puasa, zikir, dan membaca Alquran memang merupakan pilar ibadah yang utama.
Namun, Kiai Cholil menekankan bahwa dimensi ibadah sosial dan profesional juga sama pentingnya.
"Belajar bersungguh-sungguh juga ibadah, mengembangkan ilmu ibadah, bekerja profesional ibadah, berkarya dan berinovasi ibadah, bahkan membantu dan membahagiakan orang lain juga ibadah, selama diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan cara yang benar," jelasnya.
Oleh karena itu, Wakil Ketua Umum MUI ini berpesan kepada para santri dan kader NU di Mesir agar memiliki visi hidup yang progresif. Mereka tidak cukup hanya bercita-cita menjadi figur yang alim secara keilmuan agama, melainkan juga harus menjelma menjadi individu yang produktif, inovatif, dan berkontribusi nyata bagi kemaslahatan umat.
"Kita harus kuat di masjid, tetapi juga unggul di kampus, ekonomi, teknologi, dan kehidupan sosial," kata Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat.
Kiai Cholil menambahkan, esensi ajaran Islam tidak hanya berorientasi pada penciptaan pribadi yang saleh secara ritual, melainkan juga melahirkan figur-figur yang maslahat dan membawa manfaat luas bagi sesama manusia, sejalan dengan prinsip sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.




