Jakarta, MCNID.net--Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof Hasbullah Thabrany, mengungkapkan bahwa bahaya kesehatan akibat konsumsi rokok elektrik atau vape memerlukan perhatian serius, khususnya karena dampak jangka panjangnya yang bersifat akumulatif.
Menurutnya, ancaman dari zat adiktif yang bekerja secara perlahan sering kali lebih berbahaya dibandingkan dampak instan yang langsung terlihat oleh mata kepala manusia.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof Hasbullah dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) terkait Permasalahan Vape atau Rokok Elektrik (REL) yang diselenggarakan oleh Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).
Di hadapan para ulama, pakar, dan peserta FGD, Prof Hasbullah menekankan pentingnya mengkaji secara mendalam aspek medis dan toksikologi dari kandungan zat yang masuk ke dalam tubuh konsumen.
Dalam pemaparannya, Prof Hasbullah menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan berbagai zat di alam dengan karakteristik efek yang bervariasi. Ada zat yang memberikan reaksi cepat terhadap tubuh, seperti narkotika dan alkohol, yang efek mabuk atau rusaknya langsung terasa seketika setelah dikonsumsi.
Namun, ada pula zat yang reaksinya berjalan lambat, terakumulasi selama bertahun-tahun tanpa disadari oleh penggunanya.
"Jadi Allah menciptakan ini ada bervariasi. Nah, sekarang tentu tugas kita adalah menilai, mana nih yang lebih mudarat buat umat lebih banyak? Kalau dalam ilmu manajemen, saya bilang bedanya kita merebus kodok dengan air mendidih yang cepat reaksinya, dengan air pelan-pelan," ujar Prof Hasbullah.
Prof Hasbullah menguraikan lebih lanjut mengenai analogi tersebut. Jika seekor kodok dimasukkan langsung ke dalam air yang sudah mendidih, hewan tersebut akan langsung melompat karena kaget dengan perubahan suhu yang drastis.
Sebaliknya, apabila kodok ditaruh di dalam air dengan suhu yang dinaikkan secara perlahan-lahan, ia tidak akan menyadari bahayanya dan tidak akan melompat, hingga akhirnya dagingnya tanpa disadari sudah matang dan empuk.
Dia menerangkan bahwa analogi ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana bahaya jangka panjang dari nikotin dan zat kimia dalam vape sering kali mengelabui masyarakat karena akumulasinya yang terjadi secara senyap.
Berdasarkan ilmu toksikologi atau ilmu racun, dia menuturkan bahwa nikotin diakui secara global sebagai zat adiktif yang sangat kuat dan memicu ketergantungan. Hal ini membuat seseorang yang sudah terbiasa akan merasa ada yang kurang atau tidak nyaman setelah makan apabila tidak mengonsumsinya.
Akibat kecanduan inilah para konsumen tetap berupaya membeli produk tersebut meskipun harganya mahal.
Selain menyoroti aspek kesehatan personal, Prof Hasbullah juga mengingatkan agar para pembuat kebijakan maupun lembaga keagamaan melihat persoalan ini secara berimbang dengan mempertimbangkan keselamatan jutaan masyarakat luas, termasuk kelompok rentan seperti perokok pasif.
Data dan fakta medis menunjukkan bahwa korban dari paparan rokok dan vape kerap kali berasal dari kalangan dengan tingkat pendidikan dan ekonomi yang lebih rendah.
Oleh karena itu, dia berharap kajian mendalam dari Komisi Fatwa MUI dapat menghasilkan panduan yang objektif demi melindungi kesehatan umat Islam secara jangka panjang dari ancaman akumulasi zat adiktif rokok elektrik.
Berita
Guru Besar UI Ungkap Dampak Jangka Panjang Vape Lebih Berbahaya karena Bersifat Akumulatif
Sadam
4 Nov 2026 01.371

VapeGuru Besar UIDampak Jangka Panjang
Berita Lainnya
BeritaBPOM Ungkap Temukan Kandungan Ilegal Berbahaya dalam Produk Vape
BeritaApakah Vape dan Rokok Bahayanya Sama? Berikut Penjelasan Kemenkes
Berita