Jakarta, MCNID.net--Memperingati Momentum Hari Santri Nasional 2026, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, membagikan cerita dan kenangan berharga saat dirinya mengenyam pendidikan di pondok pesantren.

Menurutnya, pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan wadah penggemblengan karakter, kemandirian, dan ketangguhan mental dalam menghadapi berbagai realita kehidupan.

​"Saya kalau masuk pada Hari Santri, mengenang masa ketika di pondok dulu. Saya belajar mandiri sejak sekolah dasar (SD) keluar dari rumah," ujar Kiai Cholil Nafis di Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026).

Ketua Badan Pengurus Harian DSN MUI ini menceritakan, kedisiplinan dan kemandirian diajarkan dari hal-hal yang paling sederhana. Mulai dari mencuci pakaian sendiri, melipat baju, hingga merapikan peralatan mandi secara mandiri. Hal-hal kecil tersebut justru menjadi fondasi awal dalam membentuk pribadi yang tidak bergantung pada orang lain.

Tidak hanya belajar mandiri secara fisik, Kiai Cholil juga mengenang bagaimana masa-masa di pesantren membentuk kemampuan manajerial dan pengelolaan finansial. Saat masih nyantri, ia hanya dikirim uang saku sebesar Rp25.000 untuk kebutuhan satu bulan penuh.

​"Bagaimana ini bisa cukup selama satu bulan? Karena tidak dikirim lagi. Awal-awal karena saya pegang uang banyak, saya jajan terus. Sebelum setengah bulan uangnya sudah habis," kenangnya.

Pengalaman tersebut memaksanya untuk belajar mengatur ritme keuangan agar uang saku yang terbatas bisa bertahan hingga akhir bulan. Pelajaran mengenai pengelolaan keuangan semasa santri inilah yang membuatnya mandiri secara ekonomi dan tangguh ketika terjun ke masyarakat pasca-keluar dari pesantren.

​"Pasca dari pesantren, saya hampir tidak ada ketergantungan dengan orang lain, termasuk orang tua sendiri. Bahkan dengan mudah kami juga mandiri secara ekonomi, mencari uang sendiri, dan tentu siap dalam kondisi apa pun," tegasnya.

Kiai Cholil menambahkan bahwa kehidupan keras dan sederhana di pondok pesantren menempa dirinya untuk siap menghadapi ketidaknyamanan. Sikap pantang menyerah dan kemampuannya menyesuaikan diri di berbagai kondisi merupakan buah dari pendidikan karakter di pesantren.

​"Kondisi tidak nyaman, dalam tanda kutip miskin atau sengsara, kita siap. Termasuk saya punya kebiasaan sampai sekarang, di mana pun kalau ngantuk ya tidur. Jadi tidak butuh tempat yang nyaman atau kasur. Mau di pinggir kamar, di surau, bahkan di bawah jemuran, saya tidur saja. Itu kebiasaan dulu di pondok," tuturnya.

Pola hidup bersahaja ini berdampak positif pada kesehatan mental dan spiritualnya dalam menjalani realita kehidupan saat ini.

​"Ketika diberi kemampuan oleh Allah secara ekonomi, kita tidak sombong karena tahu dulu pernah mengalami kehidupan sengsara. Saat menghadapi kesulitan pun kita tidak kaget karena sudah biasa dengan kesederhanaan itu," jelasnya.

Lebih lanjut, Kiai Cholil menegaskan bahwa pendidikan di lembaga pesantren berbasis pada nilai-nilai keagamaan yang dipadukan dengan pembentukan karakter mulia. Walaupun pesantren terus menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan modern, inti dari tradisi pesantren tetap terletak pada pendidikan nilai dan moralitas.

​"Pendidikan karakter itulah yang membuat kita selama hidup ini mempunyai arah yang jelas dan pedoman yang memadai untuk mengarungi kehidupan. Di pesantren bukan sekadar pengajaran, tapi pendidikan karakter dan nilai-nilai yang membuat santri lebih teguh menjalani hidup," jelasnya.

Menanggapi berbagai tantangan dan sorotan publik terhadap lembaga pesantren belakangan ini, Kiai Cholil mengajak seluruh pengelola pesantren untuk menjadikannya sebagai sarana muhasabah (evaluasi diri). Kiai Cholil menekankan pentingnya langkah-langkah mitigasi dan pencegahan agar pesantren tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi santri.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini mengajak seluruh elemen masyarakat dan media massa untuk bersama-sama menjaga serta memulihkan kepercayaan publik terhadap pendidikan pesantren, mengingat sejarah panjang pesantren yang terbukti mencetak tokoh-tokoh besar bangsa.

​"Dari pesantren itu bisa jadi presiden, menteri, bahkan pejuang kemerdekaan. Resolusi Jihad adalah kerangka nilai yang dibangun oleh pesantren untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia," kata Kiai Cholil.