Jakarta, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, mengungkapkan pentingnya menjaga dan memperbanyak amalan shalat sunnah dalam kehidupan sehari-hari.
Mrnurut Kiai Cholil, amalan ibadah sunnah tersebut bukan sekadar penambah pahala, melainkan memiliki peran vital sebagai penambal dan penyempurna kekurangan dalam shalat fardu saat dihisab di hari kiamat kelak.
Wakil Ketua Umum MUI ini menjelaskan bahwa shalat merupakan amalan pertama yang akan diperiksa oleh Allah SWT pada hari kiamat.
Mengutip hadis Rasulullah SAW dari riwayat Abu Hurairah RA, Kiai Cholil memaparkan dialog antara Allah SWT dan para malaikat ketika meneliti catatan shalat setiap hamba. Menurutnya, Allah SWT memerintahkan malaikat untuk memeriksa apakah shalat fardu seseorang dikerjakan dengan sempurna atau terdapat kekurangan.
"Kalau shalatnya itu sempurna, maka Allah catat sempurna. Namun, jika ada yang kurang dari shalatnya, mungkin bolong-bolong, tidak khusyuk, atau terburu-buru, Allah bertanya kepada malaikat: Unẓurū hal lahū min taṭawwu' (Lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai amalan shalat sunnah?)," ungkap Kiai Cholil, Rabu (16/9/2026).
Apabila hamba tersebut memiliki riwayat ibadah sunnah, Allah SWT memerintahkan malaikat untuk menutup celah kekurangan tersebut. "Atimmū bihā farīḍatahū min taṭawwu'ihi" yang artinya: Maka sempurnakanlah shalat-shalat fardu yang kurang itu dengan shalat sunnahnya.
Kiai Cholil menegaskan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar terjamin memiliki shalat fardu yang sempurna 100 persen tanpa cela. Oleh karena itu, keberadaan shalat sunnah menjadi 'jaring pengaman' yang sangat berharga di akhirat.
Kiai Cholil membagi amalan sunnah dalam shalat menjadi dua kategori, yakni sunnah ab'ad dan sunnah hai'ah. Di ibaratkan seperti anatomi tubuh manusia, rukun shalat adalah organ vital seperti jantung dan kepala yang wajib ada agar shalat dianggap sah. Sementara amalan sunnah berposisi seperti anggota tubuh dan aksesoris yang melengkapi kecantikan serta fungsi tubuh tersebut.
Secara khusus, Kiai Cholil menerangkan sunnah ab'ad, seperti tasyahud awal dan doa qunut menurut mazhab Syafi'i yang sangat dianjurkan. Jika seseorang lupa mengerjakannya, kesalahan tersebut ditambal secara langsung di akhir shalat melalui sujud sahwi sebelum salam.
"Jadi ada sunnah di luar shalat, ada sunnah di dalam shalat. Jika digambarkan, shalat itu seperti fisik kita yang ada ruhnya, fisiknya, hingga aksesorisnya," tambahnya.
Kiai Cholil mengimbau umat Islam untuk tidak memandang remeh ibadah-ibadah sunnah. Selain mempertebal nilai ketakwaan, konsistensi menjalankan shalat sunnah merupakan ikhtiar nyata untuk menyelamatkan dan menyempurnakan catatan ibadah fardu ketika berhadapan dengan hisab Allah SWT.




