Jakarta, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, mengimbau umat Islam untuk senantiasa merawat dan menjaga kehormatan diri melalui penguatan iman serta konsistensi dalam beramal saleh.

Pesan mendalam tersebut disampaikan Kiai Cholil saat mengisi Khutbah Jumat bertema Menjaga Kehormatan Diri di Era Budaya Ekstrem dan Hedonisme di Masjid Bayt Alquran, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (18/9/2026).

Dalam khutbahnya, Kiai Cholil menegaskan bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia (aḥsani taqwīm). Manusia dianugerahi akal, kemampuan berbahasa, hingga pakaian sebagai penutup aurat sekaligus penanda martabat yang membedakannya dari makhluk lain.

Namun, Kiai Cholil mengingatkan bahwa potensi kemuliaan tersebut bisa hilang manakala manusia enggan menggunakan akal sehatnya dan meninggalkan tuntunan syariat.

"Ketika manusia sudah tidak lagi memfungsikan akal, bicara, dan kemuliaan dari Allah SWT, kedudukannya akan menjadi lebih rendah daripada asfala sāfilīn (tempat serendah-rendahnya), baik di dunia maupun di akhirat," tegas Kiai Cholil.

Menurut Wakil Ketua Umum MUI ini, benteng utama untuk mempertahankan kehormatan tersebut terletak pada perpaduan yang tak terpisahkan antara iman dan amal nyata. Kiai Cholil menjelaskan, iman bertindak sebagai fondasi pendorong, sedangkan amal saleh menjadi manifestasi konkret dari keberagamaan seseorang.

"Untuk merawat kemuliaan kita, harus dirawat dengan dua hal: illalladhīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāt. Harus ada iman yang merawat kita, dan iman tidak cukup hanya keyakinan kepada Allah, tetapi harus ada amal saleh yang kita perbuat," ujarnya.

Kiai Cholil menambahkan bahwa pendorong seperti syahwat dan emosi yang ada pada diri manusia bukanlah untuk dimatikan, melainkan diarahkan dengan bimbingan syariat dan akal sehat agar melahirkan hikmah dalam bersikap.

Menutup khutbahnya, Kiai Cholil mengajak jamaah untuk merenungi keterbatasan umur manusia yang rata-rata berada pada kisaran 60 hingga 70 tahun.

"Tidak lama kita hidup di dunia ini. Yang tersisa kelak hanyalah bekal amal saleh dan legasi kebaikan yang dapat kita tinggalkan sebagai amal jariyah di akhirat," ujarnya.