Jakarta, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, mengatakan bahwa indikator utama dari sosok manusia yang bijak adalah kemampuannya dalam menempatkan akal sehat dan bertindak secara tepat sesuai dengan momentum serta bimbingan syariat.
Hal tersebut disampaikannya saat mengisi Khutbah Jumat bertema Menjaga Kehormatan Diri di Era Budaya Ekstrem dan Hedonisme di Masjid Bayt Alquran, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (18/9/2026).
Dalam khutbahnya, Kiai Cholil mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai hakikat hikmah (fi'lu mā yambaghī 'alā wajhi mā yambaghī fī waqti mā yambaghī), yakni kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu yang pantas, dengan cara yang layak, serta pada momentum yang tepat.
ulama kelahiran Madura pada 1 Juni 1975 ini menyoroti fenomena banyaknya orang terpelajar saat ini yang dinilai kurang bijak karena gagal memfungsikan akalnya pada porsi dan waktu yang seharusnya.
"Banyak orang yang intelek tapi tak mampu meletakkan akalnya pada tempatnya, dan kadang-kadang mengeluarkan pikiran bukan pada waktunya, sehingga tidak relevan dengan kondisi zamannya. Banyak orang pintar, bahkan alim, tapi tak mampu membaca momentum," ujar Kiai Cholil.
Menurutnya, Allah SWT memang mengaruniai manusia dengan dorongan syahwat dan emosi. Namun, seorang bijak tidak akan membiarkan kedua hal tersebut liar tanpa kendali. Syahwat dan emosi wajib tunduk pada arahan akal sehat serta syariat agama.
wakil Ketua Umum MUI ini mencontohkan keteladanan Nabi Muhammad SAW yang tetap memiliki emosi, namun mampu mengelolanya dengan bijak tanpa pernah mengeluarkan kata-kata kotor dari lisannya.
"Kita butuh syahwat untuk punya kemauan menjadi lebih baik, dan emosi marah sebagai pemicu berbuat lebih baik. Namun, semua itu tidak boleh keluar dari akal sehat dan syariah kita, sehingga muncullah hikmah," jelasnya.
Lebih jauh, CEO Amanah Zakat menjelaskan bahwa kegagalan menempatkan akal dan membaca momentum sering kali memicu salah paham di masyarakat, salah satunya tuduhan bidah terhadap tradisi Peringatan Maulid Nabi yang sebenarnya diisi dengan pembacaan Alquran, shalawat, dan pengajaran cinta Rasul.
Kiai Cholil menegaskan bahwa akal sehat yang dibimbing syariat adalah karunia teragung untuk merawat kehormatan manusia agar tidak jatuh ke derajat yang paling rendah (asfala sāfilīn).
"Mari kita fungsikan akal kita untuk terus beriman dan beramal saleh. Apa yang kita kerjakan hendaknya menjadi bekal serta legasi kebaikan yang bermanfaat di dunia dan akhirat," kata Kiai Cholil.




