Jakarta, MCNID.net--Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, KH M Cholil Nafis, mengungkapkan bahwa kekayaan materi atau harta benda bukanlah nikmat tertinggi dalam kehidupan manusia. Dalam hierarki kenikmatan yang diberikan Allah SWT, nikmat harta justru berada pada urutan terakhir setelah nikmat-nikmat spiritual dan sosial lainnya.

Kiai Cholil, begitu akrab disapa, meluruskan pola pikir sebagian masyarakat yang kerap terjebak pada pemaknaan bahwa rezeki selalu identik dengan uang dan kepemilikan materi semata.

Kiai Cholil menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami empat tingkatan nikmat secara tepat agar tidak salah dalam menentukan fokus kehidupan. Menurutnya, nikmat tertinggi yang patut disyukuri setiap detik adalah nikmat iman dan Islam. 

Hal ini dikarenakan iman dan Islam menjadi pondasi utama manusia dalam membina rumah tangga, mendidik generasi penerus, hingga menjadi jembatan menuju keselamatan di akhirat.

"Ini kadang-kadang kita tahunya harta adalah nikmat, padahal nikmat yang paling besar itu nikmat iman dan nikmat Islam. Ibu dan Bapak bisa hidup berkeluarga, mendidik anak, serta bertetangga dengan baik karena ada iman dan Islam. Bahkan dunia ini hanya jembatan ke akhirat, dan kita tahu bekal ke akhirat karena punya iman dan Islam," ujar Kiai Cholil Nafis, Kamis (17/9/2026). 

Selanjutnya, Kiai Cholil menempatkan keberadaan pasangan yang saleh, anak-anak yang taat, serta kawan-kawan yang baik sebagai nikmat kedua terbesar. 

Menurut Kiai Cholil, rezeki berupa lingkungan keluarga yang saleh kerap kali melahirkan keajaiban yang tidak bisa dibeli dengan materi, seperti hadirnya para penghafal Alquran dari keluarga yang sangat sederhana

Adapun nikmat ketiga yang berada di atas materi adalah nikmat kesehatan. Wakil Ketua Umum MUI ini mengibaratkan kesehatan sebagai mahkota indah di atas kepala orang yang bugar, yang keberadaannya baru disadari dan dirindukan tatkala seseorang jatuh sakit. Seberapa pun banyaknya kekayaan yang dimiliki, seluruhnya akan terasa tidak berarti saat fisik tidak mampu lagi beraktivitas atau menikmati hidangan.

Atas dasar itulah, Kiai Cholil meletakkan harta benda pada posisi paling akhir. Sebah, materi hanyalah sarana pendukung kehidupan, bukan penentu utama kebahagiaan hakiki. 

Kiai Cholil pun mengingatkan agar umat Islam tidak tergolong sebagai orang yang kufur dan zalim karena merasa heboh dan sombong atas harta yang dimiliki. 

"Yang terakhir itu baru nikmat harta. Nikmat kalau kita hitung tidak akan pernah bisa terhitung, tetapi kita sebagai manusia sering kali zalim dan lupa bahwa semua itu adalah pemberian dari Allah SWT. Jangan sampai ketika kita jadi orang kaya, kita merasa paling pintar dan paling hebat, lalu lupa pada Sang Pencipta," tegas Kiai Cholil.